Mark Manson -Everything is f*cked (Segala-Galanya Ambyar) RANGKUMAN

Buku ini dimulai dengan kisah seorang pahlawan dari kalangan tentara Polandia bernama Pilecki yang hidup pada masa penjajahan yang dilakukan oleh Uni Soviet dan Nazi terhadap daerah Polandia. Dikisahkan sifat kepahlawannanya tampak atas kerelaannya untuk ditangkap oleh tentara Nazi demi mengetahui keadaan penjara camp konsentrasi yang dibangun di daerah Auschwitz, tempat ribuan elite Polandia menghilang secara misterius. Singkatnya untuk mengetahui kondisi di sana, Pilecki sengaja melanggar peraturan yang dibuat oleh Nazi kemudian ditangkap dan dibawa ke Auschwitz untuk dipenjara. Selama dua tahun dipenjara, ia membuat unit perlawan hingga akhirnya dia melarikan diri dari penjara dengan siasat cerdiknya.

Dari kisah tersebut terdapat pelajaran yang dapat diambil bahwa meski semua sudah meninggalkan kita dan kita kehilangan mereka, jangan pernah  untuk kehilangan harapan. Sebagaimana Pilecki yang tidak pernah kehilangan harapan untuk membantu orang lain dan meyelamatkan nyawa mereka bahkan saat dipenjara sekalipun.

Tanpa disadari kita selalu membuat alasan agar hidup kita selalu bermakna, dan alasan tersebut timbul dari hasrat atau nafsu diri untuk bisa terus menjalani hidup. Dengan kata lain tanpa adanya harapan maka tidak ada gunanya untuk hidup. Namun alasan yang dimiliki terkadang justru menyebabkan kesedihan dan bukan kebahagiaan. Hal itu bisa terjadi karena ketidak pahaman mengenai kebahagian.

Nah, buku ini ditulis oleh Mark Manson mengenai pendapatnya mengenai harapan dalam kehidupan yang nantinya akan membantu dirinya dan orang lain untuk menemukan makna dan tujuan hidup hingga kemudian mampu untuk hidup dengan lebih baik lagi.

Mark berpendapat lawan dari kebahagiaan bukanlah amarah atau kesedihan, karena ketika kita marah atau sedih itu menandakan kepedulian kita akan sesuatu, yang artinya ada sesuatu yang bernilai di sana. Mark berpendapat bahwa lawan kebahagiaan itu adalah keyakinan bahwa semuanya tidak berguna atau bisa dikatakan menyerah dan tiadanya harapan.

Kemudian, Mark mendefinisikan bahwa harapan berbeda dengan optimisme, jika optmisime mampu untuk mebesarkan harapan, berbeda dengan harapan, bisa saja seseorang tidak memiliki sifat optimisme dalam melakukan sesuatu, namun ia masih bisa tetap memiliki harapan yang nantinya mampu memberikan kesadaran akan makna dan tujuan, meskipun kondisi yang ada tidak mendukung harapan yang ada.

Coba bayangkan bahkan renungkan bagaimana ketika kehidupan kita ini tidak memiliki harapan?, maka semangat hidup tidak lagi ada, karena kitabtak pernah tahu mau ke mana kita membawa hidup kita ini. Mark mengibaratkan orang yang tidak mempunyai harapan atau orang yang sedang mencari harapan seperti orang yang tidak tahu apa yang bermakna bagi kehidupannya saat ini, dan apa yang harus diharapkan dari hidup ini.

Terdapat tiga hal yang sangat penting dalam membangun dan merawat harapan, jika kehilangan salah satu darinya maka kedua hal lainnya juga akan hilang, dan jika sudah kehilangan ketiganya maka akan kehilangan harapan. Tiga hal tersebut yaitu, (1) kesadaran akan kendali, (2) kepercayaan akan nilai sesuatu dan  (3) sebuah komunitas. kendali merupakan rasa bahwa kitalah yang mengendalikan hidup, dan nilai berarti kita menemukan harapan yang memang pantas untuk diperjuangkan, sedangkan komunitas berarti kelompok yang saling menghargai terhadap nilai-nilai tersebut.

Dalam mengendalikan diri terdapat dua otak yang harus kita kendalikan, yaitu otak perasa yang mengontrol emosi-emosi yang membuat kita tergerak untuk melakukan suatu tidakan, dan yang kedua yaitu otak pemikir yang menyarankan di mana tindakan dari emosi tersebut tepat untuk dilakukan. Dengan demikian kedua otak tersebut harus saling berkaitan walaupun terkadang, otak perasa memiliki peran lebih besar terhadap pengendalian diri. Diibaratkan otak perasa adalah sopir dan otak pemikir adalah navigator atau petunjuk arahnya, mungkin boleh saja sang navigator menunjukkan arah jalan bagi sang sopir, namun sang sopir lebih memiliki kendali ke mana ia akan membawa mobilnya pergi.

Ketika otak perasa lebih mendominasi bukan tidak mungkin otak perasa mampu untuk membuat kita kehilangan kontrol atas diri kita. Hal tersebut bisa terjadi jika otak pemikir tidak cukup kuat untuk menunjukkan mana sesuatu hal yang harus kita lakukan. Ibaratnya, ketika kita menilai suatu masalah dengan otak perasa atau emosi yang berlebihan dan mengesampingkan otak pemikir atau akal, maka masalah yang ada justru tidak akan terselesaikan dengan benar dan baik. Hal ini karena otak pemikir memiliki peran sebagai penunjuk arah yang harus dituju secara logis, sehingga emosi yang ada terarahkan kepada jalan benar dengan dibarengi pikiran yang logis.

Jika kita mengesampingkan otak perasa maka kita akan menjadi mati rasa, dengan menolak emosi yang ada kita akan menjadi orang yang menolak untuk membuat pertimbangan dalam memutuskan bahwa ada satu hal yang baik dari yang lainnya. Dari sikap itulah kita akan menjadi acuh tak acuh kepada kehidupan, sulit menjalin hubungan dengan orang lain dan merasa paling benar. Dari sini kita memahami berinteraksi menggunakan kedua otak tersebut dapat memadukan otak kita menjadi kesatuan yang kompak, saling bekerjasama, dan terkoordinasi dengan baik.

Masalah yang akan kita alamai dalam pengendalian diri ialah kesalahan kita dalam kendali diri terhadap harapan tersebut dengan merasa bahwa diri ini lemah dan rendah untuk mewujudkannya harapan tersebut dan untuk menunjukkannya kepada dunia. Namun, hal itu bisa diperbaiki dengan memperlihatkan nilai-nilai kita pada diri sendir bahwa kita bisa mewujudkannya kemudian kita mampu untuk memperlihatkan harapan tersebut kepada dunia. Mark mengumpamakan hal tersebut dengan "Masalahnya bukan kita tidak tau cara untuk menghidar dari pukulan. Namun masalahnya,barangkali dahulu wajah kita pernah kena pukulan, dan bukannya membalas pukulan itu, kita malah memutuskan bahwa kita pantas untuk menerima pukulan itu.

Dalam buku ini juga dijelaskan mengenai tiga hukum Newton terkait emosi yang tentunya terjadi di otak perasa. Hukum pertama yaitu bahwa setiap tindakan mendatangkan reaksi emosional dari pihak lawan dan kadarnya setara. Hukum ini berkaitan dengan hal yang dinamakan timbal balik, pada umumnya jika yang kita lakukan merupakan hal yang positif maka yang kita dapatkan hal positif pula, namun jika hal yang kita lakukan merupakan hal yang negatif maka yang kita dapatkan adalah hal negatif. Misalnya nih, keika ada seseorang yang menampar kita dengan tanpa alasan, maka kita berusaha untuk membalas untuk menampar seseorang tersebut sebagaimana yang telah ia lakukan. Hal tersebut terjadi juga disebabkan adanya kesenjangan moral yang merupakan luapan emosi seseorang akan kesadaran adanya sesuatu yang keliru telah terjadi padanya, dan kita berhak untuk pulih kembali seperti sedia kala, dan otak perasa akan memunculkan emosi-emosi yang mendorong akan adanya suatu penyetaraan terhadap diri kita.

Hukum newton kedua yaitu Harga diri kita setara dengan total emosi kita hingga kini. Artinya, emosi-emosi yang kita alami selama ini membentuk cara kita dalam menilai segala hal yang terkait dengan diri kita. Misalnya jika kita sering disanjung berlebihan oleh orang karena kita pintar maka otak perasa mengenali diri kita sebagai orang yang pintar bahkan hingga kita dewasa dan kita berhak untuk diistimewakan atasa kepintaran itu. Hal ini karena kita seringkali mencerna sendiri pengalaman atau hal yang pernah kita alami, hingga menyebabkan munculnya sifat narsis pada diri kita. Sifat narsis itu membuat kita berasumsi bahwa kita layak untuk diberlakukan istimewa atau diberlakukan seperti sampah oleh orang lain. Kemudian kita merasa asumsi tersebut adalah yang paling benar dengan merendahkan kepintaran dan harga diri orang lain, akhirnya toleransi atas orang lain telah hilang dari diri kita. Inilah contoh hukum kedua bahwa harga diri merupakan kumpulan dari emosi-emosi yang kita dapatkan dari pengalaman kita hingga saat ini.

Ketiga, hukum newton mengatakan bahwa identitas anda akan tetap menjadi identitas anda hingga sebuah pengalaman baru melawannya. Semakin lama suatu nilai yang kita pegang maka nilai tersebut akan menjadi fundamental dalam membentuk cara pandang terhadap diri kita dan dunia. Nilai itu bisa hilang dan terkikis dengan adanya pengalaman baru atau pengalaman berlawanan  dengan nilai-nilai yang kita percayai sebelumnya. Mungkin kita akan merasa sakit dan menderita ketika kita berusaha untuk meyakini nilai baru yang kita miliki yang kita anggap lebih benar dan waras dari nilai sebelumnya, karena usaha tersebut juga merupakan cara kita untuk meninggalkan nilai-nilai yang selama ini kita anggap penting dan mungkin sudah menjelma ke dalam diri kita. Namun itulah jalan yang harus kita lalui demi memulai sebuah perubahan dalam kehidupan.

Terdapat dua cara untuk menyembuhkan rasa sakit dalam meninggalkan nilai-nilai masa lalu itu: 1) dengan menulis cerita pengalaman di masa lalu kemudian memeriksanya untuk memperoleh pandangan jernih mengenai harga diri kita dan untuk menyadari bahwa apa yang kita anggap penting tentang dunia ini, ternyata tidak terbukti begitu. 2) dengan menulis cerita apa yang akan kita lakukan atau memvisualisasikan masa depan. Dengan melakukan hal tersebut kita akan mengetahui apakah nilai baru yang kita dapatkan pas untuk kita terapkan dalam kehidupan kita atau tidak. Nah, ketika nilai tersebut dirasa pas maka otak perasa akan terbiasa dengan nilai baru tersebut dan mulai menaruh kepercayaan penuh atasnya. Jadi cerita masa lalu dapat menentukan jadi diri kita sedangkan cerita masa depan akan akan menentukan harapan kita.

Kita harus memiliki iman atau kepercayaan akan pentingnya  sesuatu dan menemukan nilainya di suatu tempat sebagai cara untuk menemukan harapan. Diceritakan ada seorang filsuf bernama Nietzsche yang mengatakah "Tuhan telah wafat", ia berpendapat dalam diri kita terdapat dua moralitas kepercayaan, (1) moralitas tuan yang meyakini bahwa setiap orang mendapatkan apa yang layak mereka dapat, misalnya jika kita mendapatkan prestasi karena kerja keras kita maka hal tersebut layak untuk kita dapat (2) moralitas budak yang meyakini bahwa orang yang paling menderita layak untuk mendapatkan perhatian terbaik karena penderitaan tersebut. Dengan demikian moralitas tuan memiliki hasrat danya kesenjangan moral yang menginginkan hak spesial atas apa yang telah dikerjakan, sedangkan moralitas budak memiliki hasrat akan adanya suatu penyetaraan untuk menutup kesenjangan moral dan menghilangkan penderitaan. Kedua moralitas itu termuat dalam diri kita.

Filsuf Nietzsche mengatakan "Tuhan telah wafat" karena melihat realita yang ada bahwa kepercayaan terhadap agama spiritual telah tergantikan dengan agama ideologis yaitu ilmu pengetahuan yang mampu menunjukkan banyak bukti kebenaran akan sesuatu dan tidak bisa diperdebatkan. Namun Nietzsche berpendapat bahwa dalam agama ideologis terdapat sesuatu yang tidak dimiliki oleh agama-agama spiritual yaitu tidak bisa dipersalahkan. ketika ada seseorang yang tertimpa musibah namun jiwanya tetap tenang karena meyakini adanya Tuhan maka hal tersebut tidak bisa dipersalahkan. Karena Kekokohan agama-agama spiritual terbukti saat ketenangan hati tetap stabil meskipun bencana seberat apapun telah menimpanya, dan harapannya akan kehadiran Tuhan tetap ada dan terjaga.

Sedangkan agama Ideologis ketika seseorang meyakini suatu rencana dan gagal maka hidupnya akan ambyar. Mislanya ia menginginkan adanya reformasi dengan melobi pemerintah, ternyata reformasi yang diinginkan berujung pada kematian banyak orang, selain ia merasa salah dan bisa disalahkan, harapan yang andan inginkanpun telah ambyar. Inilah inti pernyataan Nietzsche bahwa "Tuhan telah wafat", ia menunjukkan bahwa akan adanya bencan eksistensial yang akan dibawa ke dunia oleh perkembangan teknologi yang dihasilkan dari agama ideologis atau ilmu pengetahuan.

Nietzsche meramalkan akan terjadinya konflik ideologi yang dibangun dengan moralitas tuan dan moralitas budak, dan konfli tersebut lebih besar dari kita lihat di sepanjang sejarah manusia. Hal ini karena konflik-konflik tersebut bukanlah demi Tuhan, namun demi kepentingan tuhan-tuhan yaitu kita sendiri.

Pada bagian dua buku ini dibuka dengan pembahasan formula manusia. bagian ini menjelaskan tumbeuh kembang pemikiran manusia, mulai dari anak-anak yang hanya melakukan sesuatu atas dasar kenikmatan diri sendiri, kemudian remaja yang sudah memiliki prinsip dalam melakukan sesuatu untuk menggapai tujuannya walaupun setengahnya masih berdasarkan kenikmatan, hingga tumbuh menjadi manusia yang dewasa yang mampu untuk mengekang kenikmatannya demi mempertahankan prinsip dalam hidupnya.

Untuk menjadi dewasa, seseorang harus memiliki kemampuan untuk melakukan apa yang benar untuk alasan sederhana, bahwa memang itu sungguh benar. Dengan artian bahwa seseorang telah memiliki kesadaran bahwa terkadang sebuah prinsip yang paling inti adalah mengenai baik dan buruk yang tidak bisa ditawar-menawar  atau dimanipulasi, yang bahkan jika itu menyakitkannya hari ini dan  melukai orang lain bersikap jujur tetaplah hal yang paling benar. Misalnya, seorang dewasa akan memberi sesuatu dengan begitu saja tanpa mencari-cari imbalan, karena jika ia mengharapkan imbalan, maka ia justru akan menghancurkan tujuan pemberian itu.

Kedewasaan seseorang tidak terpaut dengan usia, namun kedewasaan terkait dengan tujuan seseorang mengapa ia melakukan sesuatu. Mislanya anak kecil yang mencuru es krim karena es krim itu enak, namun ia lupa memikirkan kosekuensinya ketika ia mencuri. Remaja tidaka akan mencuri es krim walaupun es krim itu enak karena ia memikirkan konsekuensi ketika ia mencuri dan ketahuan oleh pemiliknya yang bisa dikatakan bahwa ia telah melakukan tawar menawar dengan masa depannya, bahwa ia merelakan kenikmatan saat ini demi mencegah sesuatu yang buruk menimpanya di masa depan. Sementara orang dewasa tidak mencuri hanya karena alasan sederhana, bahwa mencuri itu buruk walaupun tidak ketahuan oleh pemiliknya, dan mencuri akan membuatnya merasa jijik dengan dirinya.

Nah, formulasi kemaunisaan itu merupakan prinsip tunggal yang menarik orang-orang keluar dari kebiasaan transaksional atau tawar-menawar remaja, dan mengantarkan pada keluhuran dewasa. Jika dilihat dari penjelasan di atas, bisa dikatakan bahwa secara fundamental harapan bersifat transaksional yaitu sebuah tawar-menawar antara perilaku manusia dengan suatu hal yang diinginkan di masa yang akan datang. Misalnya untuk meraih kebahagiaan di masa depan kita harus bekerja keras dan rajin menabung.

Kunci agar harapan yang dimiliki tidak menjadi harapan yang sifatnya transaksional dibutuhkan tindakan tanpa pamrih. Misalnya mencintai seseorang tanpa menginginkan balasan cinta dari orang tersebut dan sebagainya.  Bertindak tanpa pamrih mungkin akan membuat otak pemikir anda berkata bahwa ini tidak logis dan ini merupakan kekeliruan. Sedangkan otak perasa anda akan menjerit akan rasa sakit yang datang dari sebuah kejujuran, luka yang muncul akibat mencintai seseorang atau sebagainya. Namun dengan keimanan kedewasaan serta kesadaran akan tujuan dan prinsip kehidupan yang sungguh benar, semuanya akan mampu untuk dijalani. Sehingga kita tidak pernah kecewa dengan harapan yang pernah kita buat, dan tidak sedih jika harapan tersebut tidak tercapai.

Bertindak tanpa pamrih berarti menjadikan seseorang sebagai tujuan bukan sebagai sarana. Ibaratnya ketika kita menghormati seseorang, tujuan kita ya benar-benar untuk menghormati orang tersebut, bukan sebagai sarana agar orang itu menghormati kita kembali.

Dalam menjalani kehidupan Mark Manson merumuskan bahwa penderitaan merupakan konstanta universal yang menjelaskan bahwa tidak ada orang yang bahagia terus sepanjang waktu, begitu juga tidak ada orang yang sedih sepanjang waktu. namun manusia terkadang tertipu untuk mencapai kebahagiaan yang terus-menerus dan berangan-angan memiliki kehidupan yang sempurna. Misalnya, kita berpikir bahwa dengan memiliki pekerjaan yang baru kita akan bahagia, kemudian setelah berhasil memiliki pekerjaan yang baru beberapa waktu kemudian kita akan berpikir bahwa memiliki rumah idaman akan membuat kita bahagia, setelah mendapatkannya, beberapa waktu kemudian kita akan berpikir bahwa memiliki mobil baru akan membuat kita bahagia, dan seterusnya, setelah ada sesuatu hal yang kita pikirkan tidak tercapai, kita mersa strees, pusing dan menderita. Dari misal tersebut kita tahu bahwa penderitaan merupakan suatu kepastian yang akan dimiliki oleh setiap orang yang masih hidup.

Nassim Taleb menulis sebuah konsep yang dinamakan "antikerapuha". Dalam konsep itu Taleb menulis jika ada sebuah sistem yang rapuh mudah pecah dan sistem yang kokoh menolak perubaha, sistem antirapuh mengambil keuntungan dari tekanan-tekanan eksternal dan penindasan.  Karena semakin banyak penderitaan yang didapat oleh seseorang, maka akan semakin kuat pula seseorang itu dan menjadi antirapuh. misalnya saat kita berolahraga semakin banyak tekanan yang otot terima, maka semakin kuat pula otot yang kita miliki. Namun jika akita hanya berdiam diri dan menghindari penderitaan saat olahraga maka otot kita akan menjadi lemah. Melemahnya toleransi kita terhadap penderitaan akan membuat kita gagal mendapat kebahagiaan, akan melemahkan emosional kita, dan menjadikan hidup kita menjadi ambyar.

Untuk membantu kita menyempurnakan diri kita dan mendapatkan dari kegagalan atau penderitaan, kita anggap saja penderitaan tersebut sebagai "belajar". Belajar di sini ialah ketika ditimpa kekacauan atau permasalahan, pikiran kita disetel untuk menerimanya dengan pikiran terbuka, menghasilkan prinsip-prinsip dan membangun model-model mental, memprediksi peristiwa di masa depan dan mengevaluasi masa lalu.

Antikerapuhan merupakan berasal dari nilai kedewasaan, yang memgabil keuntungan dari hal-hal yang tak terduga. Semakin menyedihkan hubungan yang dijalani, kejujuran menjadi semakin penting. Semakin mengerikan dunia ini, keberanian semakin penting untuk dimunculkan, dan semakin membingungkan kehidupan ini, bersikap rendah hati semakin berharga. Intinya penderitaan merupakan mata uang nilai-nilai kita. Tanpa rasa sakit akibat kehilangan mustahil menentukan nilai dari segala hal. Semakin antirapuh diri kita, semakin tenang reaksi emosi kita, semakin kita memiliki kendali atas diri kita, dan semakin nilai-nilai kita berjalan berdasarkan prinsip. Maka, antikerapuhan memiliki arti yang sama dengan perkembangan dan kedewasaan.

Ketika kita mengejar penderitaan, kita akan mampu memilih penderitaan seperti apa yang kita masukkan ke dalam hidup kita. Dan pilihan ini membuat penderitaan menjadi bermakna kemudain hak itulah yang membuat hidup terasa bermakna. Namun, ketika kita menyangkal kemampuan kita untuk merasa sakit(menderita) demi suatu tujuan, kita menyangkal kemampuan kita untuk merasakan setiap tujuan di dalam hidup kita

Di bagian akhir buku ini menyinggung tentang kemerdekaan asli, di mana kemerdekaan yang sesungguhnya merupakan kebebasan seseorang untuk memilih sendiri apa yang akan menjadi komitmen dan pengorbanan apa yang akan ia lakukan dalam hidupnya. bukan seperti yang selama ini kita anggap sebagai kesetaraan, sebagaimana wanita muslimah yang dianggap tidak memiliki nilai kebebasan dalam hal berpakaian yang cenderung tertutup. ketika menilai mereka tidak merdeka, justru kitalah yang sejatinya membuat mereka tidak merdeka, karena mencegah mereka untuk memilih sendiri komitmen apa yang akan mereka lakukan dalam hidupnya.

Satu pesan mark manson buat teman-temannya "Being is always the being of being" (Menjadi selamanya adalah berusaha menjalani proses menjadi).
SELAMAT MEMBACA
24/06/2020

Komentar

Postingan Populer