Review Novel Buku Panduan Matematika Terapan karya Triskaidekaman

Review Novel Buku Panduan Matematika Terapan karya Triskaidekaman
Buku ini merupakan novel yang menceritakan tentang kisah Mantisa yang terlahir dan dibesarkan di tempat penampungan anak, novel ini memasukkan dan menghubungkan rumus-rumus matematika dalam menggambarkan kisah-kasah yang terjadi di dalamnya.
Awal cerita dari novel ini menggambarkan keadaan seorang ibu yang bernama Wuri yang akan melahirkan. Namun sangat disayangkan setelah melairkan bayi perempuannya, ibu Wuri meninggal dunia. Sebelum meninggal ibu Wuri sempat berpesan kepada perawat dengan mengatakan “titip Mantisa” dan sejak saat itu nama bayi perempuannya bernama Mantisa. Karena memang ibu Wuri tidak mempunyai seseorang untuk dititipi bayinya tersebut, Mantisa akhirnya di bawa ke tempat penampungan anak tanpa orang tua atau di rumah seorang perempuan yang bernama Gardastari yang sering dipanggil ibu Tari.
Dalam novel ini menggambarjan bahwa hidup terkadang seperti kurva parabola.
Kamu meminginkan sesuatu, kamu datang mendekatinya dengan penuh harapan, tapi ternyata ia mengusirmu menjauh bahkan sebelum kamu bersentuhan dengannya. Kejam. Apa yang kamu mau justru tak mau kamu ada. Ia membuang muka, berpantang sudi. Begitulah.
Hal inilah yang di alami Mantisa di dalam rumah ibu Tari, ia mengingikan kebeasan dan selalu ingin pertanyaan yang muncul akan segera terjawab, namun nyatanya ia dikurung dan diasigkan karena keinginan bebasnya tersebut dan pertanyaan yang muncul malah semakin bertambah. Harus berbagi kue ulang tahun dengan seorang perempuan sesame penghuni rumah tersebut karena tanggal ulang tahunnya sama, harus piket membersihkan taman yang ia benci, dan harus masuk sekolah yang berisi orang-orang dewasa yang galak, dan hal-hal yang lainnya. Mantisa merupakan anak yang aktif bertanya, ia bertanya tentang segala sesuatu yang terlihat dan nyngkut dikepanya, itulah yang membuat ibu Tari tidak suka dan sering marah kepadanya.
Beruntungnya Mantisa masih memiliki teman yang telah di usir dari tempat penampungan anak yang selalu memberikan Mantisa rangsangan untuk mendapatkan jawabannya. Mantisa dapat berkomunikasi dengannya lewat jendela kamarnya yang mengarah ke belakang tempa penampungan anak tersebut. Namanya Tarsa, dia berkata kepada Mantisa “Pengetahuan adalah kekuasaan Tisa. Kamu kan senang bertanya. Bertanya saja terus, cari terus jawaban atas semua pertanyaanmu. Timbunlah pengetahuan sebanyak-banyaknya. Kamu akan punya kekuatan yang sangat besar.
Pengetahuan adalah kekuatan. Menimbun pengetahuan adalah membangun kekuatan yang sangat besar.
Saat usia tujuh tahun Mantisa mulai menapaki jenjang sekolah, dan ia membenci sekolah. Itu karena tempatnya yang membosankan dan juga dipenuhi oleh orang-orang yang menjengkelkan. Suatu saat Mantisa mendapat pelajaran matematika dari seorang guru perempua. Guru tersebut mengisyaratkan kepada murid-murid untuk membuka buku paket pelajaran. Untuk memulai pembelajaran, guru tersebut mmberi contoh cara menyelesaikan soal yang ada di buku paket tersebut, namun Mantisa protes kepadanya dengan mengatakan “Ibu bisa nggak, kalau nggak usah pake buku. Ibu buku cetak kan Cuma pelengka. Cuma hiasan. Gurunya harus cantic dulu, baru cantic kalau pakai perhiasan.” Mantisa yang masih berusia tujuh tahun sudah mengerti bagaimana seharusnya guu tersebut mengajar. Dan dari situlah diketahui bahwa Mantisa adalah seorang murid yang banyak bertanya dan bandel.
Di samping kenakalannya ia di sekolah, ternyata Mantisa adalah anak yang rajin pergi keperpustakaan, dia pergi ke sebuah perpustakaan di sebuah perkantoran yang bergaya kuno. Sekar merupakan penjaga perpustakaan tersebut, ia mengenal Mantisa dan ia menjadi teman untuk mengobrolkan topik-topik yang berbau matematika, entah dari buku yang bagus untuk di baca atau entah hal lainnya karena memang Mantisa menyukai buku tentang matematika.
Buku yang ia pernah pinjam dari perpustakaan tersebut yaitu “Intrepertasi Heksogram I Ching” buku tentang dinamika dan 64 jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semesta. Setelah ia bawa pulang ke kamarnya ia diskusikan bersama Tarsa, dan ternyata Tarsa mengetahui buku tersebut. Tarsa mengatakan bahwasannya buku tersebut seperti ramalan dan filsafat Tionghoa Kuno. Tarsa yang juga menyukai matematika, dari buku tersebut ia termenung, apakah matematika memiliki hubungan dengan dunia luar yang bukan matematika?, sepertihalnya ada keterkaitannya dengan dunia baru dan dunia lama yang belum terjamah oleh manusia. dan ia menyakini pasti ada.
Permasalahan kehidupan bisa diselesaikan dengan du acara, yang dalam rumus matematika disimbolkan dengan rumus:
P end NP
P (persoalan dalam matematika yang mampu diselesaikan dengan  metode hitungan tertentu) dan NP (persoalan matematika yang diselesaikan dengan metode coba dan salah).
Rumus tersebut termasuk satu dari enam permasalahan matematika dalam Milleum Prize Problems, yang diumumkan oleh Clay Mathematics Institute, AS pada tahun 2000. Siapapaun yang dapat menjawab pertanyaan apakah P dan NP itu saling sama atau tidak dengan pembuktian maka mendapatkan hadiah USD 1 juta.
Rumus tersebut merupakan refleksi dari penyelesaian permasalahan kehidupan, antara menyelesaikan dengan sesuatu yang pasti dapat menyelesaikan permasalahan dan sesuatu yang sifatnya hanya coba-coba dalam menyelesaikan permasalahan. Tarsa menyebutka bahwasannya konteks membangun jembatan P dan NP bukanlah persoalan matematika, melainkan persoalan yang tak terjangkau akal dan indra manusia.

Pada suatu waktu, terdapat sebuah lipatan kertas di atas tempat duduk di kelas sekolah Mantisa. Isi dari surat itu mengingatkan Mantisa bahwa jawaban atas semua pertanyaan di dunia yang punya jawaban, seharusnya bisa dirangkum menjadi satu himpunan. Himpunan itu kelihatannya besar, tetapi waktu akan membuktikan kepadamu bahwa tersanyata himpunan itu tidak sebesar dugaanmu. Aku hanya mengarakanmu mencari batas, karena batas itu ada gunanya. Keterbatasanpun aka nada gunanya, nanti kamu akan paham.
Jangan pamerkan apa yang kamu tiada, jangan sebut-sebut kalau kamu tak berpunya, jangan meratap ketika kamu kekurangan, sementara jangan terlalu semringah waktu kamu menjadi berlebih. Berbagilah sebisanya!.
Novel ini berceritakan bagaimana keinginan Mantisa ingin untuk menyelesaikan dan menemukan jawaban kesamaan antara P dan NP yang sudah empat puluh tahun lebih belum sempat terpecahkan oleh para ilmuan. Namun untuk menyelesaikan rumusan tersebut Mantisa harus memiliki banyak waktu. Akhirnya ia pun sering berdoa sekuat tenaga agar waktu dimatikan saja supaya ia dapat memilki banyak waktu untuk menyelesaikan rumusan tersebut. Namun tetapsaja pada akhirnya manusia akan sadar bahwa jembatan penghubung P dan NP akan menuju ketakterhinggaan.
Namun tidak semua yang tidak tercapai dalam hidupmu menandakan kegagalan. Karena Rencana yang dibuat untukmu selalu indah, apapun itu. Hidup, mati, berlanjut, berhenti, jalan yang Panjang, jalan yang pendek. Tergantung dari mana kamu menatapnya. Tergantung bagaimana kamu membuka hatimu. Ilmu pasti akan menjawab jalan terpendeklah yang selalu benar dapi pada jalan yang Panjang dan rumit. Namun hidup tidak melulu pasti dan tidak melulu tentang ilmu. Terkadang ia menyimpang, acak. Hidup hanya perlu dirasakan karena ia akan selalu tetap berubah walaupun kamu tak menginginkannya. Oleh karenanya nikmati dan rasakan saja aliran kehidupanmu di situ kamu akan mendapatkan kenikmatan dan fakta tentang kehidupan.
Novel yang cukup menginspirasi entah dari cerita yang diangkat dan model alur dan alat yang digunakan. Novel ini mungkin khususnya bagi orang awam dalam hal matematika akan mengalami kesulitan dalam melihat korelasi antara rumus-rumus matematika yang digunakan dengan alur ceritanya. Namun bukan berarti anda yang awam di pelajaran matematika tidak bisa membaca buku ini. Saya salut dengan pengarang novel ini “Triskaidekaman” kemungkinan ia adalah satu-satuya novelis yang saya temui yang mampu untuk menghubungkan ilmu terapan dengan memasukkannya dalam sebuah cerita. 1/4/2019.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer